Domo-kun Waving His Hands

Sabtu, 14 Maret 2015



Reddevin
Prolog
“Jean!” Ibuku itu memanggilku untuk yang ketujuh kalinya. Ia mengetuk pintu kamar ku seolah ia sedang menabuh tamborin, kuat. Aku diam tak menyahut. Aku malas bangun hari ini. Hari ini hari pertama di sekolah baruku, Paula Westginger. Huh! mengapa aku harus pindah sekolah? Padahal aku sedang populer di sekolah. Ya, aku memang kapten Lacrosse putri  di sekolah lamaku. Lacrosse adalah salah satu ekstrakurikuler elit di sekolahku. Dan Aku adalah ketua asrama menara 5. Selain itu aku rela belajar siang-malam hanya untuk masuk peringkat 3 besar disekolah dan mendapatkan ponsel keluaran terbaru. Dan bagian paling menyedihkan, aku harus masuk Klinik sekolah dan harus meminum obat-obat menjijikan itu. Akhirnya, aku masuk peringkat 3 besar disekolahku ini. Aku pun mengalahkan saudara kembarku - Will-si kutu buku. Ayah dan ibu bangga sekali padaku.
Semua itu aku genggam dengan susah payah. Dan sekarang, Ibu dan Ayah malah memindahkanku dari  sekolah dengan rating yang tinggi ke sekolah dengan rating yang standar? Alasan mereka memindahkan kami-Will dan Aku karena Mereka ingin membuat kami (terutama aku) tidak sombong lagi  pada saudara – saudara kami. Alasan yang tidak dapat kupahami sampai kapanpun.  Sungguh ini membuatku kacau. Kacau sekali. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke sungai ginger pada musim dingin seperti sekarang.
Aku sedang bermimpi mendapatkan skor saat melawan Tim Lacrosse st. Victoria. Tim Lacrosse putri terhebat yang pernah ada(menurutku) sekaligus paling hebat di kota Westmund. Semua mimpi yang sangat-sangat indah itu hancur, saat Ibu memanggilku untuk yang kesembilan kalinya. Namun Aku terlalu malas untuk bangun, jadi aku tetap memejamkan mata.
 “Jean! Aku telah memanggilmu Sepuluh kali. Jika kau tidak bangun sekarang, Aku akan memotong uang sak-!” mendengar ucapan ibu, aku langsung melompat keluar dari kasurku, dan membuka pintu kamarku.
“Selamat pagi bu,” ujarku sambil tersenyum. “Huaammm,” Aku berpura-pura menguap. “Maaf bu, semalam aku lupa menyetel wekerku, dan aku menggunakan earphone semalaman, jadi aku tidak mendengar teriakanmu.” Kataku riang seolah tidak terjadi apa-apa.

Seusai mandi dan memakai seragam Paula westginger itu. Aku sengaja  melewati dan mengintip kamar si kutu buku-Will. Menurutku kamarnya itu seperti perpustakaan, dan aku tidak menyukainya. Aku melihatnya sedang memasukkan beberapa pasang pakaian dan buku - buku tebal yang kuyakini itu sangat membosankan itu ke dalam kopernya. Will - saudara kembarku sangat menyukai buku. Setiap hari pasti selalu ada buku yang dia baca. Tak peduli seberapa tebal dan membosankan buku itu. Tidak heran jika dia sering mendapat peringkat 5 besar disekolah. Yah paling tidak 10 besar. Saat aku berhasil masuk 3 besar dan dia hanya 10 besar, aku terkejut setengah mati. Begitu juga dengannya. Padahal kukira dia akan mendapat peringkat 1 atau 2.
            Aku pun menghampirinya. “ Will, apakah kau akan membawa rak bukumu itu ke Paula westginger?” sembari duduk disebelahnya.  “ Uhm.. tidak mungkin aku hanya membawa beberapa ensiklopedia dan beberapa novel..” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap fokus pada buku-buku tebal itu. “Apakah kau senang kita dipindahkan ke sekolah dengan rating rendah?” Kali ini aku serius dengan perkataanku. Dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan buku-buku itu
 “Menurutku semua sekolah itu sama, aku senang dipindahkan ke Paula westginger. Lagipula aku merasa sekolah itu memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap.” Aku kesal karena dia tidak sepaham denganku.. “Ini bukan soal buku, Will.” Kataku. “Ternyata pikiranmu hanya seluas kertas, tidak lebih.” Kataku sambil berlalu keluar dari kamarnya.
            Sesampai di Stasiun Gingerens, si kutu buku dan aku pun mencari - cari kereta yang akan mengangkut kami ke Paula westginger. Setelah menemukannya, aku berpamitan pada kedua orang tuaku dan kakakku yang menyebalkan, Greg(Dia memang menyebalkan, tapi setidaknya dia tidak menggunakan kacamata - 1000, seperti si kutu buku). Kulihat ada beberapa anak mengenakan seragam yang sama seperti kami. Mereka bergerombol seperti suatu geng. Kurasa mereka telah saling kenal sebelumnya. Aku jadi merasa asing di antara orang asing.
            Setelah berpamitan, aku menaiki salah satu gerbong. Aku mencari tempat duduk yang kosong, di barisan paling belakang. Kupikir aku akan duduk disebelah si kutu buku. Namun perkiraanku meleset. Ternyata aku duduk disebelah seorang gadis. Gadis itu sangat putih dan menggunakan kacamata seperti si kutu buku. Aku khawatir dia sejenis dengan si kutu buku.
            Dia tersenyum kearahku.
Lalu aku tersenyum ke arahnya. “Hai,” aku menyapanya. Tentu saja agar aku tidak dikira sombong olehnya.
Aku pun mencari keberadaan Will. Ia tidak kelihatan. Aku khawatir dia sedang bersusah payah membawa salah satu rak bukunya memasuki gerbong ini. Sudahlah mungkin ia sedang ke toilet atau membeli makanan kecil. Atau malah membaca buku di dalam gerbong koper.
Tiba-tiba Will muncul dengan wajah kelelahan. “Kau kenapa? Baru membawa rak bukumu ke gerbong ini?” tanyaku. “Sudahlah Jean aku malas berdebat hari ini.” jawabnya dan duduk di samping gadis yang mungkin satu spesies dengannya. Aku tidak menjawab perkataan Will.
“Hai,” sapa Will pada gadis yang mengenakan kacamata di sebelahnya itu dan mengulurkan tangannya. Apa!? Will menyapa seseorang yang belum ia kenal? Kurasa ini tidak seperti ketentuan alam yang seharusnya.
“Hai,” jawab gadis itu. Ah, aku lupa berkenalan dengannya tadi. “Emily, kau bisa panggil aku Em,” la tersenyum dan mengulurkan tangan. Aku hanya mendegarkan percakapan dua kutu buku itu. “Namaku William, kau bisa panggil aku Will. Oh ya ini saudara kembarku-Jean.” Will memperkenalkan aku. Entah apa yang ada dipikiran Will sekarang. Tidak biasanya ia memperkenalkan aku.
“Jean,” kataku sambil mengulurkan tangan dan tersenyum. Lalu gadis itu mengalihkan pandangannya padaku. “Emily, panggil saja Em.” Jawabnya lalu membalas uluran tanganku. “Kau sebelumnya sekolah dimana?” tanyaku ingin tahu. “Dulu aku sekolah di st. Victoria.” jawabnya. St. Victoria? Oh menyebalkan, pikirku.
“Um, apa kau mengikuti eskul Lacrosse?” aku menanyakan hal konyol. Tapi ini penting jika ia adalah mantan anggota eskul Lacrosse st. Victoria. Dan aku bisa menanyakan rahasia dari eskul sekolah itu, dan mengalahkannya suatu saat nanti.
“Bukan, aku anggota eskul penggemar sains. Sebenarnya aku ingin mengikuti eskul penggemar buku, tapi di sekolah lama ku tidak ada eskul tersebut.” jawabnya. Ah anak sejenis dengan Will ternyata. “Oh begitu.” Jawabku tidak tertarik.
“Memangnya kenapa?” tanyanya lagi.
“Um, aku kapten Lacrosse putri di Markstage, sekolah lamaku. Dan tim Lacrosse sekolahmu sangatlah hebat menurutku. Dan aku ingin tahu rahasia tim itu.” aku mengakui kehebatan tim Lacrosse sekolahnya. Yang kusesali kemudian hari.
“Dulu,” Will meledekku namun pandangannya tetap pada buku yang dibacanya. Aku berjanji dalam hati akan membakar semua rak bukunya suatu hari nanti jika ia berkata lagi tentang aku dan Lacrosse sekolahku. “Kau diam saja dan teruskan membaca tumpukan kertas itu.” jawabku sinis. “Ini buku Jean,” jawab Will yang mengalihkan pandangannya dari buku ke aku. “Terserah.” Menyebalkan sekali Will ini. Jika tidak ada Em disini, akan kulempar ia keluar kereta. Tapi aku masih cukup waras untuk tidak melempar saudara kembarku keluar kereta.
Dan Will kembali pada buku yang ia baca tadi. Lalu aku kembali pada Em yang hanya tertawa melihat tingkahku dan Will.
“Maaf Em, kurasa saudaraku sedang tidak enak badan.” Aku berbohong pada Em. Tentu saja aku malu jika dibilang ‘mantan kapten’. “Aku tidak sak-” aku memotong ucapan Will “Sudahlah Will istirahat saja, dan teruskan membaca kertas yang kausebut buku itu. Sekolah jahe kita masih jauh.” aku lupa apa nama sekolah baruku itu.
“Namanya paula westginger Jean,” sahut Emily. “Terserah, aku tak peduli.” Sekolah jahe aneh, siapa peduli?  Will menyerah, ia tidak berkata apa-apa lagi.
“Kalian lucu,” kata Em tertawa riang. “Lucu?” ulangku. Aku bukannya tidak mendengar perkataannya barusan. Tapi perkataannya membuatku pusing.
“Kalian saudara kembar kan? Tapi kalian bertengkar seperti itu.” katanya lagi. Tapi ia tidak tertawa lagi kali ini. “Dia yang mulai,” kataku membela diri sambil menunjuk ke arah Will yang sedang membaca buku.“Aku? Kurasa kau yang memulainya.” jawab Will. Ia menghentikan sementara aktivitasnya membaca buku. “Kau menyebalkan Will.” kataku kesal. Will menyebalkan sekali. Rasanya aku ingin melempar ia keluar kereta.
“Bukannya kau yang menyebalkan?” astaga! Will tidak pernah berkata seperti ini sebelumnya. Apa sih yang ada dalam pikirannya sekarang? Dari nadanya berbicara ia seperti orang lain. “Entah kenapa kau tidak seperti biasanya Will.” kataku. “Aku seperti biasanya.” kata Will datar. “Kau tidak bisa mengenali dirimu sendiri.” kataku lagi. “Iya itu benar Will, walaupun aku tidak tahu kau seperti apa biasanya.” Em membelaku. Oh Em yang baik, pikirku.
“Oh benar Emily,” ujar Will sambil tersenyum kearah Emily.
Emily balas tersenyum.
“Hei, hei, kan aku yang mengatakannya. Bukan Emily.” kataku. “Lalu?” jawab Will. Will memang sangat sangat menyebalkan. “Seharusnya kau memujiku. Bukan Emily.” Oh Will, apa kau ingin benar benar kulempar keluar? “Itu hanya masalah kecil Jean, tidak usah kau besar-besarkan.” jawab Will datar. “Oh” jawabku singkat. Kurasa aku lebih baik menjadi anak tunggal saja.[]

typos tell me? 

0 komentar: