Reddevin
Prolog
“Jean!” Ibuku itu memanggilku untuk
yang ketujuh kalinya. Ia mengetuk pintu kamar ku seolah ia sedang menabuh
tamborin, kuat. Aku diam tak menyahut. Aku malas bangun hari ini. Hari ini hari
pertama di sekolah baruku, Paula Westginger. Huh! mengapa aku harus pindah
sekolah? Padahal aku sedang populer di sekolah. Ya, aku memang kapten Lacrosse putri di sekolah lamaku. Lacrosse adalah salah satu
ekstrakurikuler elit di sekolahku. Dan Aku adalah ketua asrama menara 5. Selain
itu aku rela belajar siang-malam hanya untuk masuk peringkat 3 besar disekolah
dan mendapatkan ponsel keluaran terbaru. Dan bagian paling menyedihkan, aku
harus masuk Klinik sekolah dan harus meminum obat-obat menjijikan itu. Akhirnya,
aku masuk peringkat 3 besar disekolahku ini. Aku pun mengalahkan saudara
kembarku - Will-si kutu buku. Ayah dan ibu bangga sekali padaku.
Semua itu aku genggam dengan susah
payah. Dan sekarang, Ibu dan Ayah malah memindahkanku dari sekolah dengan rating yang tinggi ke sekolah
dengan rating yang standar? Alasan mereka memindahkan kami-Will dan Aku karena Mereka
ingin membuat kami (terutama aku) tidak sombong lagi pada saudara – saudara kami. Alasan yang
tidak dapat kupahami sampai kapanpun. Sungguh ini membuatku kacau. Kacau sekali.
Rasanya aku ingin menenggelamkan diri ke sungai ginger pada musim dingin
seperti sekarang.
Aku sedang bermimpi mendapatkan
skor saat melawan Tim Lacrosse st. Victoria.
Tim Lacrosse putri terhebat yang
pernah ada(menurutku) sekaligus paling hebat di kota Westmund. Semua mimpi yang
sangat-sangat indah itu hancur, saat Ibu memanggilku untuk yang kesembilan
kalinya. Namun Aku terlalu malas untuk bangun, jadi aku tetap memejamkan mata.
“Jean! Aku telah memanggilmu Sepuluh kali.
Jika kau tidak bangun sekarang, Aku akan memotong uang sak-!” mendengar ucapan
ibu, aku langsung melompat keluar dari kasurku, dan membuka pintu kamarku.
“Selamat pagi bu,” ujarku sambil
tersenyum. “Huaammm,” Aku berpura-pura menguap. “Maaf bu, semalam aku lupa
menyetel wekerku, dan aku menggunakan earphone semalaman, jadi aku tidak
mendengar teriakanmu.” Kataku riang seolah tidak terjadi apa-apa.
Seusai mandi dan memakai seragam
Paula westginger itu. Aku sengaja melewati dan mengintip kamar si kutu buku-Will.
Menurutku kamarnya itu seperti perpustakaan, dan aku tidak menyukainya. Aku
melihatnya sedang memasukkan beberapa pasang pakaian dan buku - buku tebal yang
kuyakini itu sangat membosankan itu ke dalam kopernya. Will - saudara kembarku
sangat menyukai buku. Setiap hari pasti selalu ada buku yang dia baca. Tak
peduli seberapa tebal dan membosankan buku itu. Tidak heran jika dia sering
mendapat peringkat 5 besar disekolah. Yah paling tidak 10 besar. Saat aku
berhasil masuk 3 besar dan dia hanya 10 besar, aku terkejut setengah mati. Begitu
juga dengannya. Padahal kukira dia akan mendapat peringkat 1 atau 2.
Aku pun menghampirinya.
“ Will, apakah kau akan membawa rak bukumu itu ke Paula westginger?” sembari
duduk disebelahnya. “ Uhm.. tidak
mungkin aku hanya membawa beberapa ensiklopedia dan beberapa novel..” Jawabnya
tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap fokus pada buku-buku tebal itu. “Apakah
kau senang kita dipindahkan ke sekolah dengan rating rendah?” Kali ini aku
serius dengan perkataanku. Dia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari
tumpukan buku-buku itu
“Menurutku semua sekolah itu sama, aku senang
dipindahkan ke Paula westginger. Lagipula aku merasa sekolah itu memiliki
perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap.” Aku kesal karena dia tidak
sepaham denganku.. “Ini bukan soal buku, Will.” Kataku. “Ternyata pikiranmu
hanya seluas kertas, tidak lebih.” Kataku sambil berlalu keluar dari kamarnya.
Sesampai di
Stasiun Gingerens, si kutu buku dan aku pun mencari - cari kereta yang akan
mengangkut kami ke Paula westginger. Setelah menemukannya, aku berpamitan pada
kedua orang tuaku dan kakakku yang menyebalkan, Greg(Dia memang menyebalkan,
tapi setidaknya dia tidak menggunakan kacamata - 1000, seperti si kutu buku).
Kulihat ada beberapa anak mengenakan seragam yang sama seperti kami. Mereka
bergerombol seperti suatu geng. Kurasa mereka telah saling kenal sebelumnya. Aku
jadi merasa asing di antara orang asing.
Setelah
berpamitan, aku menaiki salah satu gerbong. Aku mencari tempat duduk yang
kosong, di barisan paling belakang. Kupikir aku akan duduk disebelah si kutu
buku. Namun perkiraanku meleset. Ternyata aku duduk disebelah seorang gadis.
Gadis itu sangat putih dan menggunakan kacamata seperti si kutu buku. Aku
khawatir dia sejenis dengan si kutu buku.
Dia
tersenyum kearahku.
Lalu aku tersenyum ke arahnya.
“Hai,” aku menyapanya. Tentu saja agar aku tidak dikira sombong olehnya.
Aku pun mencari keberadaan Will. Ia
tidak kelihatan. Aku khawatir dia sedang bersusah payah membawa salah satu rak
bukunya memasuki gerbong ini. Sudahlah mungkin ia sedang ke toilet atau membeli
makanan kecil. Atau malah membaca buku di dalam gerbong koper.
Tiba-tiba Will muncul dengan wajah
kelelahan. “Kau kenapa? Baru membawa rak bukumu ke gerbong ini?” tanyaku.
“Sudahlah Jean aku malas berdebat hari ini.” jawabnya dan duduk di samping
gadis yang mungkin satu spesies dengannya. Aku tidak menjawab perkataan Will.
“Hai,” sapa Will pada gadis yang
mengenakan kacamata di sebelahnya itu dan mengulurkan tangannya. Apa!? Will
menyapa seseorang yang belum ia kenal? Kurasa ini tidak seperti ketentuan alam
yang seharusnya.
“Hai,” jawab gadis itu. Ah, aku
lupa berkenalan dengannya tadi. “Emily, kau bisa panggil aku Em,” la tersenyum
dan mengulurkan tangan. Aku hanya mendegarkan percakapan dua kutu buku itu.
“Namaku William, kau bisa panggil aku Will. Oh ya ini saudara kembarku-Jean.” Will
memperkenalkan aku. Entah apa yang ada dipikiran Will sekarang. Tidak biasanya
ia memperkenalkan aku.
“Jean,” kataku sambil mengulurkan
tangan dan tersenyum. Lalu gadis itu mengalihkan pandangannya padaku. “Emily,
panggil saja Em.” Jawabnya lalu membalas uluran tanganku. “Kau sebelumnya
sekolah dimana?” tanyaku ingin tahu. “Dulu aku sekolah di st. Victoria.”
jawabnya. St. Victoria? Oh menyebalkan, pikirku.
“Um, apa kau mengikuti eskul Lacrosse?” aku menanyakan hal konyol.
Tapi ini penting jika ia adalah mantan anggota eskul Lacrosse st. Victoria. Dan
aku bisa menanyakan rahasia dari eskul sekolah itu, dan mengalahkannya suatu
saat nanti.
“Bukan, aku anggota eskul penggemar
sains. Sebenarnya aku ingin mengikuti eskul penggemar buku, tapi di sekolah
lama ku tidak ada eskul tersebut.” jawabnya. Ah anak sejenis dengan Will ternyata.
“Oh begitu.” Jawabku tidak tertarik.
“Memangnya kenapa?” tanyanya lagi.
“Um, aku kapten Lacrosse putri di
Markstage, sekolah lamaku. Dan tim Lacrosse sekolahmu sangatlah hebat
menurutku. Dan aku ingin tahu rahasia tim itu.” aku mengakui kehebatan tim
Lacrosse sekolahnya. Yang kusesali kemudian hari.
“Dulu,” Will meledekku namun
pandangannya tetap pada buku yang dibacanya. Aku berjanji dalam hati akan
membakar semua rak bukunya suatu hari nanti jika ia berkata lagi tentang aku
dan Lacrosse sekolahku. “Kau diam saja dan teruskan membaca tumpukan kertas
itu.” jawabku sinis. “Ini buku Jean,” jawab Will yang mengalihkan pandangannya
dari buku ke aku. “Terserah.” Menyebalkan sekali Will ini. Jika tidak ada Em
disini, akan kulempar ia keluar kereta. Tapi aku masih cukup waras untuk tidak
melempar saudara kembarku keluar kereta.
Dan Will kembali pada buku yang ia
baca tadi. Lalu aku kembali pada Em yang hanya tertawa melihat tingkahku dan Will.
“Maaf Em, kurasa saudaraku sedang
tidak enak badan.” Aku berbohong pada Em. Tentu saja aku malu jika dibilang
‘mantan kapten’. “Aku tidak sak-” aku memotong ucapan Will “Sudahlah Will
istirahat saja, dan teruskan membaca kertas yang kausebut buku itu. Sekolah
jahe kita masih jauh.” aku lupa apa nama sekolah baruku itu.
“Namanya paula westginger Jean,”
sahut Emily. “Terserah, aku tak peduli.” Sekolah jahe aneh, siapa peduli? Will menyerah, ia tidak berkata apa-apa lagi.
“Kalian lucu,” kata Em tertawa
riang. “Lucu?” ulangku. Aku bukannya tidak mendengar perkataannya barusan. Tapi
perkataannya membuatku pusing.
“Kalian saudara kembar kan? Tapi
kalian bertengkar seperti itu.” katanya lagi. Tapi ia tidak tertawa lagi kali
ini. “Dia yang mulai,” kataku membela diri sambil menunjuk ke arah Will yang
sedang membaca buku.“Aku? Kurasa kau yang memulainya.” jawab Will. Ia
menghentikan sementara aktivitasnya membaca buku. “Kau menyebalkan Will.”
kataku kesal. Will menyebalkan sekali. Rasanya aku ingin melempar ia keluar
kereta.
“Bukannya kau yang menyebalkan?”
astaga! Will tidak pernah berkata seperti ini sebelumnya. Apa sih yang ada
dalam pikirannya sekarang? Dari nadanya berbicara ia seperti orang lain. “Entah
kenapa kau tidak seperti biasanya Will.” kataku. “Aku seperti biasanya.” kata Will
datar. “Kau tidak bisa mengenali dirimu sendiri.” kataku lagi. “Iya itu benar Will,
walaupun aku tidak tahu kau seperti apa biasanya.” Em membelaku. Oh Em yang
baik, pikirku.
“Oh benar Emily,” ujar Will sambil
tersenyum kearah Emily.
Emily balas tersenyum.
“Hei, hei, kan aku yang
mengatakannya. Bukan Emily.” kataku. “Lalu?” jawab Will. Will memang sangat
sangat menyebalkan. “Seharusnya kau memujiku. Bukan Emily.” Oh Will, apa kau
ingin benar benar kulempar keluar? “Itu hanya masalah kecil Jean, tidak usah
kau besar-besarkan.” jawab Will datar. “Oh” jawabku singkat. Kurasa aku lebih
baik menjadi anak tunggal saja.[]
typos tell me?
0 komentar: