Bab 1(Reddevin)
“Ada yang
ingin kaubeli?” seorang waitress menghampiri tempat dudukku. Aksen inggrisnya
mengerikan, pikirku. Tapi ia tetap ramah. Sepertinya usia wanita itu sekitar 50
tahunan.
“Biarkan aku melihatnya,” jawabku
sambil melihat makanan apa saja yang ia bawa. “Silahkan,” ujarnya ramah. Wanita
itu selalu tersenyum saat mengatakan sesuatu. Aneh juga.
Mengecewakan.
Ia tidak menjual makanan keberuntunganku-coklat. Selama aku memandang troli yang
ia bawa, aku tak bisa menemukan coklat. Sejauh ini.
“Apa ada
yang tidak ingin kaubeli?” tanyanya. Ah sepertinya ia bisa melihat
ekspresi-kekecewaanku.
“Tentu ada,”
sergahku cepat. “Hanya saja, aku tak bisa menemukannya.” lanjutku lagi
“Apa yang kaucari?” ia bertanya
lagi. “Coklat, kau punya satu?” kataku. Kuharap ada coklat tersembunyi dibalik jumper khas italinya itu. Baju rajutan
abad ke-19, pikirku.
“Sayang
sekali, aku tidak memiliki coklat. Coklat terakhir dibeli oleh gadis itu. “
katanya. Lalu ia menunjuk pada seorang gadis berkepang 2 di barisan depan. Oh
putih sekali gadis itu. Malah, ia terlihat agak menyeramkan.
“Maaf aku
tak ingin beli apa-apa selain coklat, sekarang.” Tentu saja tak ada yang ingin
kubeli selain coklat karena makanan ringan di troli itu sangat-sangat tidak
menarik.
“Baiklah
kalau begitu. Semoga harimu menyenangkan” Ujar pelayan itu. Lalu ia mendorong
trolinya lagi. Aku tak menjawabnya-malas.
Setelah
pelayan itu pergi, sekarang giliran Will menghampiriku. Wajahnya terlihat lelah
dan juga kesal. Mungkin ia kehilangan salah satu dari bukunya. “Bukuku hilang.”
Katanya serius. Tebakanku tepat.
“Buku apa?” tanyaku. Jujur saja aku
malas membahas buku. Terutama bersama William.
“Novel abad
19.” Jawabnya singkat. Dari nada pembicaraannya ia masih serius. “Lalu apa
hubungannya denganku?” kataku. Jujur aku kurang-malah tidak peduli dengan
buku-bukunya. Apalagi novel abad 19. Mungkin saja penulisnya sudah berada di
dalam tanah.
“Apa kau
menyembunyikannya?” dia menuduhku. Will memang bodoh. Mana mungkin aku
berurusan dengan novel abad 19 nya. “Tentu saja tidak. Mungkin saja arwah si
penulis buku itu yang mengambilnya, dan ia mem-” Will memotong kalimatku.
“Tidak masuk akal.”
“Apa yang
masuk akal bagi ku, tidak masuk akal bagimu.” Kataku dengan nada serius yang
dibuat-buat. “Terserah. Aku ulangi lagi. Apa kau menyembunyikannya?” menyebalkan
ia tidak percaya bawa bukan aku yg menyembunyikannya.
“Kuulangi lagi. Tentu saja tidak.” Aku mulai
kesal juga kalau Will menuduhku tanpa bukti seperti ini. “Memang kau punya
bukti aku yang mengambilnya?” selidiku. “Memang tidak, tapi dulu kau pernah
menyembunyikan novelku, jadi aku berpikir bahwa kau yang mungkin
menyembunyikannya.” Jawabnya. Will itu menyebalkan.
“Terima kasih telah menuduhku.” Aku
menyindirnya.
“Maaf, maaf Jean.
Aku tak terlalu bermaksud menyindirmu.”
“Terserah.”
“Jean, aku
betul-betul minta maaf.”
“Terserah.”
“Maaf Jean,
apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?”
“Kau harus
mentraktirku di kantin nanti,” ujarku sambil nyengir.
“Kau ini, “
nampaknya Will akan marah. “Tapi baiklah.” Sambungnya lagi.
Setelah itu,
Will yang menyebalkan kembali ke tempat duduknya. Dan kembali membaca seperti
biasanya. Entah buku macam apa yang ia baca, tapi buku itu sangat tebal dan
bisa saja membosankan. Melihatnya saja, sudah membuatku mengantuk, apalagi
membacanya.
Aku baru
sadar bahwa gadis yang ditunjuk oleh waitress tadi, memperhatikanku. Dari
matanya ia terlihat marah. Aku tak tahu kenapa. Mungkin ia salah satu dari
anggota lacrosse st. Victoria yang kakinya pernah kutendang. Biarkan saja, aku
pun masih benar-benar ingin menendang kaki pemain Lacrosse st. Victoria.
Karena tidak
bisa tidur, aku menghampiri tempat duduk Will. Ternyata ia masih membaca
tumpukan kertas yang ia sebut buku itu.
Wajahnya terlihat aneh, saat aku
mendatanginya.“Will, kapan sih kita sampai di sekolah jahe itu?” entah sudah
berapa hari aku terdampar di kereta ini. “Kurasa pukul 2 nanti.” jawabnya. Seperi biasa-pandangannya tetap pada buku.
“Sekarang pukul berapa? Apa kau
tahu nama daerah dimana kita sekolah nanti? Apa kau tahu seperti apa itu
sekolah jahe?” aku menanyakan banyak hal. Will menjawabnya satu persatu.
“Sekarang pukul 1, sekolah itu terletak di sebelah timur kota westginger. Aku
sih belum pernah melihatnya secara langsung. Tapi di buku panduan murid baru,
tertulis bahwa sekolah itu dibangun pada abad 19.” Abad 19? Astaga itu sudah
lama sekali.
“Apa sekolah
itu angker?” tanyaku lagi. “Angker?” Will mengulangi ucapanku. “Maksudku
Berhantu, ” terangku. “Tentu saja aku tidak tahu,” jawab Will. “Aku akan mencari tahu hal itu sesampainya
disana.” lanjutnya lagi. “Oh, baguslah.” Jawabku. “Bolehkan aku duduk di
sampingmu?” aku memang duduk sendirian. “Boleh,” jawab Will. “Oh Will kau baik
se-” Will memotong ucapanku. “Tapi jangan menyentuh barang-barangku.” Oh Will kau
anggap aku ini kutu ya?
“Iya.”
Jawabku lagi.
Ternyata
benar Will membawa rak bukunya kesini.
“Kupikir kau bisa membuka sebuah
perpustakaan, Will.” Ledekku.
“Err, aku memang ingin membuka sebuah perpustakaan, tapi koleksi
bukuku belum cukup banyak.”jujur saja Will ini bodoh atau apa aku tak tahu,
daripada membuka sebuah perpustakaan lebih baik membuka sebuah kafe, yah paling
tidak itu menurutku sih.
“Belum cukup banyak? Kurasa 3 rak
penuh buku itu cukup.” Kataku.
“Tidak, 10 rak baru cukup.” Kurasa
aku mau pingsan.[]
0 komentar: