Domo-kun Waving His Hands

Sabtu, 14 Maret 2015



Bab 1(Reddevin)
            “Ada yang ingin kaubeli?” seorang waitress menghampiri tempat dudukku. Aksen inggrisnya mengerikan, pikirku. Tapi ia tetap ramah. Sepertinya usia wanita itu sekitar 50 tahunan.
“Biarkan aku melihatnya,” jawabku sambil melihat makanan apa saja yang ia bawa. “Silahkan,” ujarnya ramah. Wanita itu selalu tersenyum saat mengatakan sesuatu. Aneh juga.
            Mengecewakan. Ia tidak menjual makanan keberuntunganku-coklat. Selama aku memandang troli yang ia bawa, aku tak bisa menemukan coklat. Sejauh ini.
            “Apa ada yang tidak ingin kaubeli?” tanyanya. Ah sepertinya ia bisa melihat ekspresi-kekecewaanku.
            “Tentu ada,” sergahku cepat. “Hanya saja, aku tak bisa menemukannya.” lanjutku lagi
“Apa yang kaucari?” ia bertanya lagi. “Coklat, kau punya satu?” kataku. Kuharap ada coklat tersembunyi dibalik jumper khas italinya itu. Baju rajutan abad ke-19, pikirku.
            “Sayang sekali, aku tidak memiliki coklat. Coklat terakhir dibeli oleh gadis itu. “ katanya. Lalu ia menunjuk pada seorang gadis berkepang 2 di barisan depan. Oh putih sekali gadis itu. Malah, ia terlihat agak menyeramkan.
            “Maaf aku tak ingin beli apa-apa selain coklat, sekarang.” Tentu saja tak ada yang ingin kubeli selain coklat karena makanan ringan di troli itu sangat-sangat tidak menarik.
            “Baiklah kalau begitu. Semoga harimu menyenangkan” Ujar pelayan itu. Lalu ia mendorong trolinya lagi. Aku tak menjawabnya-malas.
            Setelah pelayan itu pergi, sekarang giliran Will menghampiriku. Wajahnya terlihat lelah dan juga kesal. Mungkin ia kehilangan salah satu dari bukunya. “Bukuku hilang.” Katanya serius. Tebakanku tepat.       
“Buku apa?” tanyaku. Jujur saja aku malas membahas buku. Terutama bersama William.
            “Novel abad 19.” Jawabnya singkat. Dari nada pembicaraannya ia masih serius. “Lalu apa hubungannya denganku?” kataku. Jujur aku kurang-malah tidak peduli dengan buku-bukunya. Apalagi novel abad 19. Mungkin saja penulisnya sudah berada di dalam tanah.
            “Apa kau menyembunyikannya?” dia menuduhku. Will memang bodoh. Mana mungkin aku berurusan dengan novel abad 19 nya. “Tentu saja tidak. Mungkin saja arwah si penulis buku itu yang mengambilnya, dan ia mem-” Will memotong kalimatku. “Tidak masuk akal.”
            “Apa yang masuk akal bagi ku, tidak masuk akal bagimu.” Kataku dengan nada serius yang dibuat-buat. “Terserah. Aku ulangi lagi. Apa kau menyembunyikannya?” menyebalkan ia tidak percaya bawa bukan aku yg menyembunyikannya.
 “Kuulangi lagi. Tentu saja tidak.” Aku mulai kesal juga kalau Will menuduhku tanpa bukti seperti ini. “Memang kau punya bukti aku yang mengambilnya?” selidiku. “Memang tidak, tapi dulu kau pernah menyembunyikan novelku, jadi aku berpikir bahwa kau yang mungkin menyembunyikannya.” Jawabnya. Will itu menyebalkan.
            “Terima kasih telah menuduhku.” Aku menyindirnya.
            “Maaf, maaf Jean. Aku tak terlalu bermaksud menyindirmu.”
            “Terserah.”
            “Jean, aku betul-betul minta maaf.”
            “Terserah.”
            “Maaf Jean, apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?”
            “Kau harus mentraktirku di kantin nanti,” ujarku sambil nyengir.
            “Kau ini, “ nampaknya Will akan marah. “Tapi baiklah.” Sambungnya lagi.
            Setelah itu, Will yang menyebalkan kembali ke tempat duduknya. Dan kembali membaca seperti biasanya. Entah buku macam apa yang ia baca, tapi buku itu sangat tebal dan bisa saja membosankan. Melihatnya saja, sudah membuatku mengantuk, apalagi membacanya.
            Aku baru sadar bahwa gadis yang ditunjuk oleh waitress tadi, memperhatikanku. Dari matanya ia terlihat marah. Aku tak tahu kenapa. Mungkin ia salah satu dari anggota lacrosse st. Victoria yang kakinya pernah kutendang. Biarkan saja, aku pun masih benar-benar ingin menendang kaki pemain Lacrosse st. Victoria.
            Karena tidak bisa tidur, aku menghampiri tempat duduk Will. Ternyata ia masih membaca tumpukan kertas yang ia sebut buku itu.
             Wajahnya terlihat aneh, saat aku mendatanginya.“Will, kapan sih kita sampai di sekolah jahe itu?” entah sudah berapa hari aku terdampar di kereta ini. “Kurasa pukul 2 nanti.” jawabnya.  Seperi biasa-pandangannya tetap pada buku.
“Sekarang pukul berapa? Apa kau tahu nama daerah dimana kita sekolah nanti? Apa kau tahu seperti apa itu sekolah jahe?” aku menanyakan banyak hal. Will menjawabnya satu persatu. “Sekarang pukul 1, sekolah itu terletak di sebelah timur kota westginger. Aku sih belum pernah melihatnya secara langsung. Tapi di buku panduan murid baru, tertulis bahwa sekolah itu dibangun pada abad 19.” Abad 19? Astaga itu sudah lama sekali.
            “Apa sekolah itu angker?” tanyaku lagi. “Angker?” Will mengulangi ucapanku. “Maksudku Berhantu, ” terangku. “Tentu saja aku tidak tahu,” jawab Will.  “Aku akan mencari tahu hal itu sesampainya disana.” lanjutnya lagi. “Oh, baguslah.” Jawabku. “Bolehkan aku duduk di sampingmu?” aku memang duduk sendirian. “Boleh,” jawab Will. “Oh Will kau baik se-” Will memotong ucapanku. “Tapi jangan menyentuh barang-barangku.” Oh Will kau anggap aku ini kutu ya?
            “Iya.” Jawabku lagi.
            Ternyata benar Will membawa rak bukunya kesini.
“Kupikir kau bisa membuka sebuah perpustakaan, Will.” Ledekku.
“Err, aku memang ingin  membuka sebuah perpustakaan, tapi koleksi bukuku belum cukup banyak.”jujur saja Will ini bodoh atau apa aku tak tahu, daripada membuka sebuah perpustakaan lebih baik membuka sebuah kafe, yah paling tidak itu menurutku sih.
“Belum cukup banyak? Kurasa 3 rak penuh buku itu cukup.” Kataku.
“Tidak, 10 rak baru cukup.” Kurasa aku mau pingsan.[]

0 komentar: